Memburu Aktor Teror Pemburu Koruptor !

Aksi teror terhadap punggawa KPK kembali terulang, kali ini yang menjadi sasaran amukan teroris bayaran utusan para koruptor ialah lokasi kediaman Pimpinan KPK, Agus Raharjo dan Laode M. Syarif korban yang ditarget, dari penelusuran awal aparat belum diketahui pasti motif dari dari aksi teror terhadap pimpinan KPK tersebut, karena hingga kini belum ada satupun pelaku yang dinyatakan suspect dan bertanggungjawab atas aksi teror rabu lalu (9/1), namun spekulasi liar telah beredar bahwa aroma dari motif teror telah dengan mudah dapat dicium, mayoritas masyarakat awam bisa dengan mudahnya menduga bahwa aksi teror ini adalah terkait dengan sepak terjang lembaga antirasuah tersebut dalam menjalankan tugasnya berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, kinerja yang dimaksud dapat dibaca pada Pasal (4) dinyatakan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi dengan rincian dan jabaran pada Pasal (6) point (c) bahwa KPK melakukan penyelidikan,penyidikan dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi, yang mana dalam melaksanakan tugasnya tersebut sudah dapat dipastikan Komisi Pemberantasan Korupsi akan berhadapan dengan ganasnya permainan dan serangan balik para koruptor kelas kakap, yang barang tentu mempunyai uang dan kuasa untuk berusaha mencelakakan para barisan legal lembaga dan personel pemburu koruptor inir, pada Pasal (11) UU No .30 Tahun 2002 tampak diantara jenis koruptor buruan KPK antara lain berada pada level lingkaran koruptor papan atas yakni menangani kasus korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara dan orang lain ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara, kasus korupsi yang mendapatkan perhatian dan merasahkan masyarakat yang menyangkut kerugian negara satu miliar keatas, dan korupsi tipikal ini hanya dapat dilakukan oleh penjahat kerah putih ( White Collar Crime ). Melalui keterangan pers yang disampaikan oleh ketua wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo bahwa pelaku pelempar bom molotov ke kediaman Laode M. Syarif yang terekam oleh CCTV berjumlah dua orang dan menggunakan sepeda motor, ditarik benang merah bahwa ada kesamaan pola yang digunakan oleh pelaku dengan aksi penyiraman air keras yang menimpa penyidik KPK Novel Baswedan pada 11 April 2017 lalu, kesamaan terlihat dari jumlah pelaku eksekutor. Maka secara dini jamak disimpulkan bahwa pelaku berasal dari jaringan yang sama dengan pelaku yang menyasar pimpinan KPK.

Ibarat Sarapan KPK Sehari-hari

Jika ditelisik dan ditelusuri kembali kilas balik teror yang pernah menimpa beberapa punggawa KPK, maka masih segar dalam ingatan kita, bahwa disadari atau tidak kasus teror ini seakan sudah menjadi sarapan sehari-hari orang-orang yang ada di KPK, diantaranya, pada tahun 2011 Dwi Samayo penyidik KPK ditabrak oleh mobil tak dikenal dari arah belakang saat mengendarai sepeda motor, 2015 Afief Yulian Miftach Penyidik KPK yang akan dicelakai dengan menusuk ban mobil dan menyiram air keras dibagian depan, dan yang paling tragis kasus penyiraman air keras kepada penyidik senior KPK Novel Baswedan saat pulang shalat subuh di dekat rumahnya di Kelapa Gading Jakarta utara, yang menyebabkan mata kirinya tidak bisa melihat dan yang terbaru 9 Januari 2019 teror terhadap pimpinan KPK, itu hanyalah catatan dari sebagian kecil rentetan teror yang dialami personel KPK, dari kasus-kasus teror tersebut semuanya belum ada yang terungkap tentang siapa dalang dibalik teror tersebut. Padahal pengungkapan kasus-kasus tersebut dibutuhkan untuk menjamin keadilan dan penegakan hukum di republik ini, karena apabila kasus-kasus ini tak kunjung terungkap maka tak ayal teror ini akan tetap jadi sarapan sehari-hari personel yang ada di KPK dan tentu ini akan menjadi rintangan yang berbahaya dalam upaya penegakan hukum, khususnya upaya pemberantasan korupsi karena secara langsung ataupun tidak kinerja personel KPK akan terganggu kerena selalu dibayang-bayangi ancaman teror dalam menjalankan tugas dan kewajibannya.

Masyarakat mengutuk keras aksi kriminal dan imoral yang berkepanjangan ini maka sudah sepatutnya langkah kongkrit dan progresif dari aparat kepolisian untuk menindak kasus ini bukan hanya secara normatif yang selama ini diterapkan, butuh langkah yang tidak biasa untuk menangani kasus ini, jangan lagi seperti yang sudah-sudah yang tak menghasilkan apa-apa, dan perlu menjadi catatan kasus ini seharusnya menjadi momentum bagi presiden untuk segera membuka mata bahwa hambatan-hambatan upaya penegakan hukum ini penting dituntaskan, salah satunya mengeluarkan Inpres pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta yang sempat ditolak oleh presiden, karena itulah langkah besar yang dapat dilakukan dan sangat ditunggu oleh masyarakat untuk mengungkap rentetan teror terhadap personel KPK yang notabenenya negara harus memberi perlindungan terhadap penegak hukum dari teror dan intimidasi semacam ini. Keep on fighting for the better of Indonesia. Jangan pernah surut, Indonesia bersama KPK.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.