#TelatBerat
Sofah D. Aristiawan
Anti-Corruption Youth Camp 2017

Tepat 40 tahun silam, Mochtar Lubis, wartawan kawakan yang merangkap seorang budayawan itu sungguh menggegerkan khazanah kebudayaan kita lewat pidatonya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 6 April 1977. Ia menerangkan dengan penuh pesimistis apa dan bagaimana sifat manusia-manusia Indonesia itu sesungguhnya. Setidaknya, menurut telaahnya, ada 12 sifat dasar yang dimiliki orang Indonesia, yang utama: (1) Hipokrit (lain di muka, lain pula di belakang), (2) Segan dan enggan bertanggung jawab atas pikirannya, putusannya, serta lakunya (saling lempar tanggung jawab dan mengatakan bukan saya jika gagal dan sebaliknya, saling klaim itu karena saya bila berhasil), (3) Feodalistik (asal bapak senang, asal dosen bahagia, asal bos gembira), (4) Percaya takhayul, (5) Artistik, (6) Watak yang lemah. Dan tentu tak ketinggalan: sulitnya untuk sekadar berdisiplin (lucunya, rutin kita berseloroh: aturan itu bukan buat dipatuhi secara tertib, melainkan dibuat justru untuk dilanggar).

Respon atas uraian Lubis itu tentu beragam, banyak yang pro dan tak sedikit pula yang anti. Dan bila kita coba jujur, kita memang tak bisa menutup mata lagi bahwa hal semacam itu nyata, mengendap dalam darah orang Indonesia, melekat dalam perilaku keseharian kita, manusia Indonesia, baik secara sadar dan sengaja maupun tidak –sampai sekarang. Menariknya, apa yang dipantik Lubis di masa lalu itu seperti direpetisi lewat bahasa yang berbeda dengan gaya yang jenaka dan satire justru oleh seorang bule kelahiran Kanada yang sudah jadi manusia Indonesia (warga negara Indonesia –red), Sacha Stevenson.

Sejak 2013, Sacha konsisten membuat video-video parodi nan lucu di sub-kanal Youtube-nya yang dinamainya “How to Act Like Indonesian”. Dalam salah satu episodenya, ia menggambarkan betapa, dalam istilah Lubis, manusia Indonesia itu jauh dari sikap tanggung jawab dan sulit untuk berdisiplin pada kesepakatan umum yang ada. Dari video berdurasi kurang dari lima menit itu, Sacha memang tak memakai pisau analisis setajam dan sesuram Lubis, tapi justru sebab itu ia jadi menarik, karena ia mencontohkan hal-hal remeh yang kadang diabaikan: contohnya, bagaimana masyarakat Indonesia itu suka memakai sandal orang lain tanpa izin, lalu sekonyong-konyong dikembalikanlah sandal itu justru dalam keadaan jauh dari semula.

Namun, bagi saya, kritik yang coba diperlihatkan bule yang memutuskan untuk menetap di perkampungan Jakarta itu tak semata berhenti pada justifikasi bahwa begitu bobroknya kebudayaan kita, seperti yang dilihat Lubis di atas, melainkan justru semisal perkara “Meminjam Sandal” itu dikatakannya dengan sesuatu yang sebetulnya positif namun berlebihan, yaitu demikian guyubnya manusia Indonesia. Meminjam sandal itu tanda bahwa tubuh masyarakat Indonesia itu masih komunalistik. Walaupun, Sacha pun tak menampik bila hal itu berlebihan justru akan jatuh pada laku yang tak bertanggung jawab dan melanggar nilai-nilai umum.

Sehingga, nampaknya kita pun jadi salah bila melihat manusia Indonesia beserta perilaku rumitnya itu cuma dengan kaca mata hitam putih, lalu dari situ, kita simpulkan dengan segera dan mengeneralisirnya. Itulah mengapa uraian Lubis di atas itu tetap kontroversial hingga saat ini. Mungkin, ia baik sebagai sebuah kritik atas kemandekan perkembangan kebudayaan kita, tapi barangkali ia juga keliru untuk menjawab, seperti pertanyaan Sacha dalam kanal Youtube-nya: “Siapa saya?” “Siapa manusia Indonesia?”

Persamaan keduanya, baik apa yang diparodikan Sacha atau apa yang diuraikan Lubis tentang manusia Indonesia, saya kira, mereka sama-sama sepakat bahwa ada nilai-nilai umum yang tak bisa dimaklumi bila, meniru Sacha di atas, berlebihan: semisal perilaku koruptif. Dan sosok yang konsisten untuk tak “berlebihan” itu setidaknya terpotret dalam diri seorang Mohammad Hatta, bapak bangsa dengan integritas yang sangat tinggi, negarawan dengan penerapan kedisiplinan yang ketat. Banyak kisah untuk menunjukkannya, kita ambil yang ringan dan mungkin lucu. Saat di tempat pengasingan Banda Neira, Maluku Tengah, uniknya, keberadaan Hatta kerap dijadikan patokan sebuah jam. Maksudnya, rutinitasnya yang saban hari mengelilingi Pulau Banda sekitar pukul 4-5 sore pasti selalu disambut dengan seruan, “Wah, sudah jam lima,” oleh para pekerja kebun pala saat Hatta melewati kebun itu. Munculnya Hatta jadi penting bagi mereka, sebab tidak adanya jam di kebun pala yang lapang itu. Dan dari cerita itu, kita tentu mesti bertanya pada diri sendiri: Sebegitunyakah Hatta tepat waktu?

Tetapi, saya rasa, yang lebih pentingnya lagi, bahwa integritas seorang Hatta yang diawali dengan perilaku berdisiplin dan tak berlebihan dalam memaknai nilai-nilai umum itu menjadikannya sosok rujukan seorang manusia Indonesia ideal, utamanya yang bebas dari perilaku koruptif, sekaligus contoh yang tepat bahwa uraian Lubis itu memang tak sepenuhnya benar. Maka, mari seperti Hatta, benahi negeri dimulai dari diri sendiri dengan terus berusaha mendisiplinkan diri –kendati memang sangat-sangat sulit.

#ACYC2017
#INTEGRITY