#DebatCapres Seberapa Parah Korupsi di Indonesia?

Permasalahan korupsi memang masih menjadi kendala terbesar dalam kemajuan sebuah negara dan ini merupakan masalah global. Jika Mahasiswa mendapatkan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) sebagai nilai dari kegiatan akademis mereka, pemerintah juga mendapatkan IPK (Indeks Persepsi Korupsi) dalam menjalankan tugas dan kewenangannya. Indonesia masih tidak terlalu buruk karena kita masih berprestasi dengan menduduki peringkat 3 sebagai negara terkorup di ASEAN dan peringkat 90 dunia, kondisi demikian terjadi karena kita kehilangan triliunan rupiah uang negara akibat korupsi.

Mungkin jika melihat kasus korupsi kita seperti melihat infotainment, memang kita tidak merasakan dampak korupsi secara langsung namun harus kita sadari triliunan rupiah uang yang dikorupsi apabila digunakan membantu pendidikan anak bangsa bisa menyekolahkan mereka dari SD hingga lulus sarjana, kenyatannya negara belum memenuhi komitmen dalam melawan korupsi, buktinya menurut data ICW (Indonesia Corruption Watch) ada 48 napi eks koruptor yang maju menjadi calon anggota legislatif di tahun 2019. Hal ini masih menjadi PR besar bagi kita semua.

Jika korupsi masih merajalela di negeri ini, bukan tidak mungkin kita akan mengalami krisis seperti Brazil saat ini. Skandal korupsi terbesar Brazil yang diistilahkan ”Operation Car Wash” menyeret sebanyak 232 orang yang diselidiki, 160 orang yang ditangkap, 93 orang yang didakwa, dan 16 perusahaan yang terlibat. Investigasi kasus ini mengungkap skandal suap dan cuci uang yang melibatkan BUMN minyak Brazil, Petrobras. Kasus ini juga menyeret bekas presiden Lula da Silva ke dalam daftar orang yang diselidiki dengan kerugian sekitar 28 triliunan. Mengakibatkan kurang lebih 13.000 pekerja di PHK dan berdampak kepada perekonomian di negara Brazil dan negara tetangga.

Pertanyannya, bagaimana cara mengatasi korupsi ini? Dengan upaya represif penegakan hukum yang dilakukan negara saat ini dirasa kurang efektif, kita bisa mencontoh negara tetangga Singapura dan Finlandia yang menanamkan nilai anti korupsi sejak dini di sistem pendidikannya yang mengedepankan bahwa “Kejujuran akan selalu menang”. Cara ini adalah upaya efektif untuk memutus rantai korupsi dan melahirkan generasi berintegritas.

Bisa kita bayangkan jika tidak ada korupsi di Indonesia, rakyat yang sakit bisa mendapatkan pengobatan gratis di rumah sakit, pembangunan sekolah untuk menunjang kualitas pendidikan, memasang wifi di pedesaan agar masyarakat desa mampu mengikuti perkembangan multi dimensi dan berapa banyak uang investor yang akan masuk untuk pembangunan Indonesia, mengingat investor malas berinvestasi di Indonesia karena perizinan yang koruptif dan sulit.

Jadi daripada saling berdebat menyalahkan kedua pasang calon, lebih baik kita memperdepatkan bagaimana solusinya biar korupsi ini hilang dan gak bisa tumbuh lagi di Indonesia. Selain itu kita juga harus mengimplementasikan nilai integritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika negara sudah maksimal melakukan upaya pemberantasan korupsi tetapi kita secara ngga sadar melakukan tindakan koruptif, ya percuma saja dong. Karena komitmen memberantas korupsi bukan hanya tanggung jawab presiden dan wakilnya, tetapi masyarakat Indonesia. Siapapun presiden yang terpilih nanti, mari kita dorong untuk melaksanakan pendidikan anti korupsi secara masif.

*) Fahmi Ramadhan Firdaus ( Alumni Jambore Komunitas Anti Korupsi KPK 2018 )

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.