Dana Desa dan Pemuda Berdaya: Catatan Kecil #FestivalPemudaDesa2018

“Desa Pangung Harjo dan Desa Wisata Ponggok, merupakan salah satu Bumdes Unicorn yg didalamnya juga dikelola oleh anak muda”, cukup tercengang juga mendengar istilah “Unicorn” pada sesi sharing Festival Pemuda Desa 2018 di Yogyakarta, dengan pembicara Wahyudi Anggoro Hadi salah satu kades terbaik di Indonesia yang memulai karirnya menjadi Kades di usia sangat muda, Rivo Pahlevi reporter program TV Indonesiaku yang sudah berkeliling ke desa-desa di 33 provinsi dan terakhir menyabet penghargaan Anugerah Jurnalistik M.H Thamrin 2018, Muhammad Faisal pendiri youth lab Indonesia, penulis buku “Generasi PHI’ serta banyak melakukan riset mengenai pemuda di era millennial. Pembicara dengan seabreg pengalaman yang masih muda dan menginspirasi tentunya membuat sesi sharing sangat menarik.

Kembali ke istilah “Unicorn“, barangkali bagi sebagian orang banyak yang belum tahu mengenai istilah ini, di era millenial Unicorn disematkan untuk startup baru yang sangat berhasil dan mengelola aset dengan angka diatas 1 milliar dolar, kalau di Indonesia salah satu yang beruntung menyandang predikat tersebut adalah Gojek. Bagaimana dengan konteks desa, istilah unicorn bagi para penggiat desa disematkan karena sudah mampu menghasilkan keuntungan bagi desanya diatas 1 milliar.

Jadi teringat Prof Rhenald Kasali, yang melabeli era sekarang dengan istilah “shifting” yang tidak hanya perubahan dari offline menjadi online, tapi dimaknai lebih luas sebagai dampak dari disrupsi teknologi yang memunculkan cara-cara baru, tetapi utamanya dalam mengubah interaksi manusia. Dengan era tersebut saat ini banyak sekali artikel yang menulis mengenai “Millenials kill Again” dimana saat ini banyak profesi-profesi dan bisnis yang hilang akibat dari perubahan perilaku konsumen, maka tidak aneh ketika teman saya menuliskan postingan di media sosial terkait beberapa peran kasir di loket Bank sudah beralih menggunakan mesin dan teknologi, atau kalau kita lihat lebih luas bagaimana perilaku pembelian produk berubah dari offline menjadi online dan salah satu yang terdampak adalah bisnis retail dan departemen store yang saat ini gerai-gerainya mulai berguguran.

beberapa penyebab terjadinya hal tersebut adalah milenial yang mulai berubah perilakunya, karena mereka mulai berbelanja via online dan kini mereka tidak heboh lagi berbelanja barang, melainkan lebih suka berbelanja pengalaman (experience/leisure). Melihat hal tersebut, sebenarnya perubahan perilaku ini banyak membuka peluang bagi pengembangan potensi desa, karena mereka memiliki potensi sumber daya, potensi dana dan tentu potensi pemuda yang sangat besar bahhkan 10 sampai 20 tahun kemudian kita akan mendapatkan bonus “Demografi”.

Meilihat catatan diatas sudah selayaknya potensi pemuda tersebut dikelola dengan lebih serius dan terencana, sebenarnya bibit-bibit sudah mulai terlihat dari gerakan yang dilakukan di Yogyakarta dengan program “Energi Muda Desa Untuk Negeri”, bagaimana para kaum muda saling berjejaring, mengembangkan potensi masing-masing dan mau ikut serta dalam pengelolaan keuangan desa yang transparan melalui serangkaian kegiatan secara kreatif. Pada Festival Pemuda Desa kali ini bahkan menampilkan 40 booth yang berasal dari desa-desa para alumni sekolah pemuda desa 2017 dan 2018  terlibat, booth ini menampilan produk dan wisata yang cukup unik, menarik , dikemas secara kreatif dan tentu sangat mengagumkan .

Sepertinya tidak salah apabila dihubungkan dengan era sekarang, jangan-jangan justru desa yang kedepannya mampu menjawab era “Shifting” dan menangkal “Millenials kiil again”, karena mereka mampu menjawab kebutuhan masa depan di masa kini dan mampu menghasilkan keuntungan untuk dikelola dan hasil keuntungannya akan kembali kemasyarakat.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.